Filipi 2:1-11 - 1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada
penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, 2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan
ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, 3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau
puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang
menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; 4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya
memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga. 5 Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh
pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak
menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,
7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya
sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah
merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. 9 Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia
dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, 10 supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala
yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, 11 dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus
adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!
- Mementingkan
diri sendiri
Sifat
Mementingkan Diri Sendiri atau yang disebut dengan sifat egois atau egosentris
sebenarnya adalah sifat alamiah yang dimiliki semua orang untuk menomorsatukan
kepentingan dirinya sendiri dan secara alamiah kita manusia memiliki sifat ini
dan juga memiliki sifat berpendirian keras.
Untung
dan ruginya mementingkan diri sendiri
Keuntungannya - tidak ada
Ruginya
;
-
Apabila sifat egois ini kita biarkan, ia akan
menjadi kekuatan yang mengendalikan dan menyusutkan intelektual kita, bahkan
mampu membuat manusia Mengalami kegagalan intelektual.
-
Melemahkan kekuatan moral dan di kala itu akan
terjadi kekecewaan dalam kehidupan kita.
-
Manusia mulai memisahkan diri dari Penciptanya
dan sering manusia itu menjadi tidak berbahagia
Sifat
mementingkan diri sendiri itu menyelewengkan prinsip, membingungkan pengertian
dan mengaburkan pertimbangan.
Sebagai contoh,
keinginan untuk mendapatkan keuntungan yang besar, namun dengan cara berusaha
menghalangi hak orang lain.
Bagaimana
caranya untuk mengendalikan timbulnya sifat egois ? Berikut beberapa cara yang
mungkin bisa dilakukan untuk menahan sifat egois tersebut :
-
Kurangi membicarakan diri sendiri dan memuji
diri sendiri
-
Waspadalah terhadap bersimpati kepada diri
sendiri dan memanjakan diri kepada selera yang menyesatkan. Ingatlah bahwa
hidup untuk diri sendiri itu sangat mempermalukan Tuhan.
-
Jangan cepat merasa puas dengan diri sendiri.
-
Hindari kuasa memerintah dan sifat ingin
menguasai di dalam pikiran kita
-
Sering mengampuni orang lain dan menomorduakan
kepentingan diri sendiri akan memupuk kebesaran hati dan perubahan hati. Rasa
empati atau toleransi atas kepentingan orang lain harus selalu dipupuk agar
kita tidak menjadi orang yang bersifat egois.
-
Jangan menonjolkan diri sendiri.
- Kerendahan
hati
Mat 11:29 "Pikullah kuk
yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati
dan jiwamu akan mendapat ketenangan."
Dalam bahasa
Yunani kerendahan hati dituliskan dengan kata "praios" ( terjemahan
b.Ingris : meek ) yang mana berarti juga lemah lembut.
Kata praios juga
dipakai dalam salah satu tema kotbah Yesus di bukit ( beatitudes ) yaitu
berbahagialah orang yang lemah lembut ( praios) , karena mereka akan memiliki
bumi.
Kerendahan hati
memang erat kaitannya dengan peyerahan dan ketergantungan total kepada Allah.
Dalam suratnya
kepada jemaat di Galatia ,
Rasul Paulus menuliskan tentang buah Roh yang salah satunya adalah kerendahan
hati/kelemahlembutan ( praios, praiotes ). Jadi ternyata kerendahan hati juga
merupakan salah satu bagian dari buah Roh. Salah satu tanda kedewasaan rohani
adalah memiliki buah Roh termasuk salah satunya buah kerendahan
hati/kelemahlembutan.
- Teladan Yesus
Hendaklah kamu
dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam
Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan
dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah
mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi
sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan
diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Yesus merupakan
tedadan utama kita dalam mempelajari hidup dalam kerendahan hati. Selama hidupNya
di dunia ini, Yesus selalu berjalan dalam kerendahan hati dan ketaatan kepada
Bapa. Oleh karena itu pelayananNya membawa pengaruh yang begitu besar dan tidak
dapat tertandingi oleh siapapun manusia yang pernah hidup di dunia. Sejak
manusia jatuh ke dalam dosa maka dunia ini sudah dikuasai oleh kesombongan dan
keangkuhan hidup. Yesus datang dengan bersenjatakan kerendahan hati untuk
mengalahkan dan menaklukkan kesombongan tersebut. Kesombongan hanya dapat
dikalahkan oleh kerendahan hati.
Walaupun Yesus merupakan
anak Raja dari segala Raja namun Ia memilih untuk lahir di kandang yang hina. Lalu
Ia juga memilih untuk dilahirkan sebagai
anak tukang kayu yang mana bukan pekerjaan terhormat. Selama 30 tahun, Ia juga
bekerja sebagai tukang kayu walaupun sebenarnya Ia bisa saja melayani sejak
remaja sebab kemampuan dan hikmatNya sudah memungkinkan untuk itu. Namun dengan
sabar Yesus menunggu dalam kerendahan hati sampai waktunya (kairos) telah tiba
bagi Dia untuk melayani sebagai anak Allah. Salah satu definisi dari kerendahan
hati adalah kerelaan untuk mengalami hinaan dan tidak dikenal.
Pada masa-masa
terakhir hidupNya di dunia ini, Yesus membasuh kaki murid-muridNya sebagai
lambang kerelaanNya untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Yesus
mengatakan kepada para muridNya sebagaimana Aku membasuh kakimu maka kamu wajib
saling membasuh kaki yang mana berarti harus saling melayani dan merendahkan
diri. Selain berarti kerelaan untuk tidak dikenal, kerendahan hati juga berarti
kerelaan untuk melayani dan menjadi hamba bagi orang lain. Kita wajib saling
melayani satu dengan yang lain dalam kerelaan bila ingin hidup dalam kerendahan
hati. Salah satu bentuk saling melayani tersebut adalah dengan saling mendoakan
satu dengan yang lain.
Karena itu
rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu
ditinggikan-Nya pada waktunya (I Ptr 5:6).
Syarat untuk
mendapatkan promosi/peninggian dari Allah adalah hidup dalam kerendahan hati.
Bila kita hidup dalam kerelaan untuk tidak dikenal dan melayani orang lain maka
Tuhan akan meninggikan kita pada waktunya. Promosi yang sejati datang dari
Tuhan bukan dari manusia. Bila Tuhan sendiri yang mempromosikan kita maka tidak
ada satupun manusia yang dapat menghalangiNya.
No comments:
Post a Comment